Saturday, April 25, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 2)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Akhir / a·khir / n 1 belakang; yg belakang sekali; kemudian; 2 kesudahan; penghabisan

Tidak ada yang bersuara di antara keduanya. Yang satu mengatupkan bibir rapat-rapat dengan dua lengan dilipat di depan dada. Yang satu lagi sibuk menenggak air mineral sebanyak-banyaknya, menimbulkan suara glek-glek yang jadi bising dalam kondisi tanpa suara seperti ini.

“Ojou,” kata Amakusa, memecah keheningan. “Itu tadi kopi terburuk yang pernah kuminum.”

Rona merah. “D-diam! Ini yang terakhir kalinya, oke!”

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 1)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
A/N: So I was bored, and frustated at my rusty writing skill, so I decided to do some small pieces using a set of theme (taken from 50 Sentences Challenge at Infantrum). It's going to range from drabble to ficlets (or something in between).

Biru. / bi·ru / n warna dasar yg serupa dng warna langit yg terang (tidak berawan dsb) serta merupakan warna asli (bukan hasil campuran beberapa warna) 

“Huh.”

Satu alis terangkat membentuk kurva sempurna. Hanya perlu satu lirikan tajam dari si gadis untuk menarik kata-kata selanjutnya keluar dari mulut Amakusa.

“Punggungmu biru,” ujar pria itu. Dengan kedua lengan dilipat di depan dada, Amakusa terus memperhatikan punggung Ange yang terekspos karena gadis itu sedang berganti pakaian. Mereka sedang berada di kamar hotel yang mewah—tapi kamar hotel tetaplah hanya satu kamar. Amakusa sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan memberi sedikit privasi saat gadis itu berkata ingin ganti pakaian, dan Ange menarik kesimpulan anak kecil sepertinya tidak akan menarik perhatian laki-laki itu, jadi dengan tenang ia melepas jaket dan kemejanya.

“Pasti karena pendaratan di atap mobil tadi siang,” jawab gadis itu, nada suaranya datar sempurna, sembari memakai jubah kamar yang tersedia di kamar hotel.

Suara tawa kecil, hampir mengejek, bergulir dari bibir Amakusa. “Memar seperti itu tidak cocok untuk anak gadis, Ojou.”

Monday, March 9, 2015

Jepang!! Yatta!! ~part 2~

Keberangkatan dan Day 1 (12 Januari 2015)
Haloha, saya kembali lagi membawa kisah di bulan Januari #ceilah. Masih adakah yang ingat dengan kisah saya di part 1? Ya, berakhir di bagian beli barang dan sibuk UAS lol. Nah, dengan berakhirnya UAS secara resmi pada hari Jumat, 9 Januari 2015, saya pun bisa dengan bebas memikirkan masalah keberangkatan Jenesys ini.

Tiket pesawat menuju Jakarta yang saya beli adalah tiket hari Minggu (11 Januari) jam 5-an pagi. Saya berangkatnya berdua sama Violet. Berhubung pesawatnya subuh, Violet pun memutuskan untuk menginap semalam di kos saya, biar paginya naik taksi bareng. Ternyata kami berdua sama-sama nggak bisa tidur tuh hahaha. Alarm yang udah diset aja kalah cepet sama kami xD Setelah mandi (airnya dinginnn sampe menggigil, sedihnyaaa) dan minum kopi anget (dopping dikit bro), kami pun berangkat. Sempet was-was juga sih sebetulnya, mepet banget sama waktu check-in. Tapi untungnya masih sempat :””) Ohiya, suasana T2 Bandara Juanda lagi ruameee sama rombongan umroh. Kaget banget ngeliat T2 yang biasanya sepi itu jadi penuh orang, subuh-subuh lagi!!

Thursday, February 12, 2015

Jepang!! Yatta!! ~part 1~

Jepang. Destinasi impian semua mahasiswa Sastra Jepang, termasuk saya. Demi apa, bulan Januari kemarin saya berhasil mewujudkan mimpi itu. Saya menginjak tanah Jepang! Dan gratis. Hoho. Kok bisa sih? Bisa dong, karena saya ke Jepang dalam rangka mengikuti program Jenesys 2.0 :”””)

Jadi semuanya bermula di bulan... bulan apa ya? September atau Oktober gitu deh. Lupa euy. Ada pengumuman dari admin prodi Sastra Jepang Universitas Airlangga, bahwa sedang dibuka pendaftaran program Jenesys untuk bulan Januari. Syaratnya, harus membuat sakubun (karangan) dengan tema yang telah ditentukan oleh sensei.

Saya ingat, waktu itu deadline sakubun tinggal sehari. Dan saya belum bikin sama sekali (hehe). Hari sudah sore, pikiran sudah semrawut, saya sudah nggak berharap banyak.

Wednesday, December 31, 2014

[Fanfic] Satu di Antara Sejuta

Title: Satu di Antara Sejuta
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko No Naku Koro Ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K
Genre: General
Disclaimer: Umineko No Naku Koro Ni and its characters are properties of Ryukishi07. I do not receive any profit from this fictional work.
Warning: an AU where Ange and Amakusa are perfectly strangers
Summary: Satu lompatan. Satu mobil yang sedang terparkir. Satu kebetulan, dan segalanya berubah.

-story start-

Derap kaki gadis itu semakin lambat. Napasnya mulai tersengal, dan otot kakinya mulai menjerit. Dia memang tidak pernah terlalu berbakat di bidang olahraga, apalagi yang tipe lari sprint seperti ini. (Dia tidak pernah terlalu berbakat di bidang apapun.) Tapi dia tidak bisa berhenti. Tidak sekarang. Tanpa menoleh pun dia tahu, para pengejarnya sudah mendekat. Sembari terus berlari otak gadis itu berputar cepat. Dia harus mencari jalan keluar yang tidak melibatkan lebih banyak aktivitas fisik, lebih disukai apabila dia bisa menghentikan laju para pengejarnya itu.

Saat itulah dia melihat pintu darurat di ujung koridor.

Otomatis otaknya membentuk persamaan mudah: pintu darurat = keluar gedung = jalan keluar.

Tanpa ragu gadis itu mendorong pintu darurat yang membawanya langsung ke tangga darurat yang berada di sisi luar gedung. Tangga besi itu menimbulkan bunyi berisik ketika dia berlari meniti anak tangga satu per satu. Namun sayangnya, baru beberapa anak tangga terlewati, pintu darurat tadi menjeblak terbuka memuntahkan rombongan laki-laki berjas hitam yang mengejarnya. Dalam sekejap gadis itu menyadari kesalahan dalam perhitungannya. Tangga jelas bukan cara terbaik untuk melarikan diri.

Suara mobil yang berderum pelan memecah konsentrasinya. Refleks, gadis itu menoleh ke bawah, di mana sebuah mobil sedan silver sedang terparkir manis tepat di bawah posisinya saat itu.

Sebuah ide muncul.

Gadis itu berhenti berlari. Dengan mata hijau cemerlang dia menatap lekat satu laki-laki pengerjarnya yang berada paling depan. Satu tarikan napas dalam-dalam, dan gadis itu berkata, “ja na.”

Lalu ia melompat melewati pagar pembatas.

.:.:.

Lelaki berambut perak itu menguap lebar-lebar. Entah sudah berapa lama dia menunggu bosnya di dalam mobil sedan itu. Bos? Ah, klien sepertinya lebih tepat. Dia bukan tipe orang yang punya atasan.

Ngomong-ngomong, bagaimana perjanjiannya tadi? Hari ini dia akan dapat tugas baru, sejauh itu dia paham. Tapi kenapa dia masih di sini, kebosanan setengah mati, dan bukannya menemui kliennya? Atau lebih baik lagi, langsung bertemu dengan orang yang akan dia lindungi mulai hari ini. (Lagipula dengar-dengar, anak baru itu gadis muda yang cantik.)

Kadang, pekerjaan sebagai bodyguard itu sungguh membosankan. (Tapi bayarannya bagus. Jelas ini ladang penghasilan yang tidak bisa dilewatkan.)

Suasana damai di dalam mobil terusik ketika ada suara keras dari arah atap. Bukan hanya itu, lelaki itu jelas merasakan getaran di seluruh badan mobil. “Apa-apaan—”

Sebelum dia sempat membuka pintu, seorang gadis berambut merah turun dari atap mobil. (Oh, hei, roknya pendek sekali. Hm? Dia turun dari atap?)

Dan gadis itu seenaknya masuk ke dalam, duduk tenang di bangku penumpang seolah-olah dialah si empunya mobil.

“Jalan,” perintah gadis itu pendek, memanfaatkan kondisi si lelaki yang masih terpana. Sesungguhnya lelaki itu ingin menolak, mengusir gadis itu keluar—tapi sepasang mata hijau cemerlang yang tajam menusuk itu seolah menghipnotisnya.

Lelaki berambut perak itu segera menurunkan rem tangan dan menginjak pedal gas, diiringi desahan pelan dari gadis bermata hijau.

Inilah pertemuan pertama Ushiromiya Ange dan Amakusa Juuza.

-end-

A/N : rusty writing skill is rusty. Saya harus mulai membiasakan diri untuk menulis setiap hari lagi. Entah mengapa kebiasaan itu dulu terhenti. Akibatnya sekarang saya webe dalam menulis makalah untuk assignment huhu.
Anyway, I still love Umineko. Dan baru inget kalo selain OTP (Battler/Beato), saya juga nge-ship Amakusa/Ange! Saking minoritasnya mereka, sampai saya sendiri lupa -__-" I may or may not be continuing this AU into a drabble series.