Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, July 11, 2019

nightmare endroll

Sometimes I would close my eyes,
And I'd rewatch the dream of that day again.
When I open my eyes,
Your figure would still be there under my tears.
I saw you!
My love, my most beloved,
With your brows knitted together,
With your lips curled into a scowl,
With your eyes screaming in fury.
My love, my most beloved,
Such a pure wish I made under that star.
Such an innocent ego I poured into your cold body.
Such a gentle selfishness I tied you with.
My love, my most beloved,
Where are you now, after the dream has ended?
My soul and my heart are deep, deep inside that dream.
Still screaming,
I'm still looking for your warm forgiveness.
Please,
How could this be a nightmare when I could finally see you again

Holy Mother

A piece of heaven is in her eyes.
Look, there's more in her lips, in her hands, in her heart.
Each piece has jagged ends,
Each piece draws blood from her veins.
It hurts, she says.
It hurts, she cries, as she embraces them closer.
A piece of heaven is logged deep in her, can you see?
Even the tears she sheds bear the same color.
The tracks of her finger, wet, cold, iron--so pretty.
She speaks like an angel.
She sings the tune of a holy mother.
She forgives all, she loves all.
My piece of heaven, did she bring it with her?

Monday, July 8, 2019

永遠を誓いましょうか


Will someone ever see what I hinted with farewell here.
The promise to go to the sea is actually a promise to double suicide.

Tuesday, April 18, 2017

warmth



Father, Father, listen!
Today the little bird left its nest
And the pink petals went away
And the stones rolled down the hill
And the people laughed terribly loud
And the papers littered my table
And the sky is vast

Father, Father, answer!
Is the Earth warm enough?

into the spring storm



In the spring storm,
I hear a lullaby—sweet and soft
Look, the trees dance slowly to the tune
Look, spring wants you to dance too
So let's wear your cold, cold toes and
Wear your wet jacket
We dance under the rain and falling leaves
Spring storm is coming and going,
Don't let it pass! Don't let it pass!
We will go together—one, two, one, two
So let's wear your cold, cold toes and
Join the storm!

Saturday, October 22, 2016

シの帰り道

October 6, 2016.

My previously silent phone suddenly bursted with messages once it's connected to internet.
The first message I read was from a classmate of middle school days.

"I'm sorry for your loss."

Ah, so this is what it means to have the Earth crumbles beneath you feet, I thought. So this is what it means to have the world stop spinning on its axis.
 
I chose to open the message from my sister next. She simply asked if I could call her right away.
But I had class in two minutes, there's not enough time, there's not enough process in my brain to talk.
I ended up taking the 90-minutes class and barely listened to the lecture.

After class ended I hastily slipped out and found a corner before dialing my sister's LINE account. She treaded the topic carefully. But I had known. I had known what she was going to say.

My father is gone.

---

紅一葉
舞い散る朝に
永久祈り   ........................................... (1)

囁いた
温かい手を
さようなら   ........................................... (2)

濡れ瞳
埋もれられ愛
キラメクよ ............................................. (3)

経たぬトキ
シの帰り道
先発し ..................................................(4)

古い本
幾千語り
なくしちゃった .......................................(5)

くすのきく
遠い呼び声
ゆらゆらり .............................................(6)

悲しみも
喜びと舞う
美しさ ................................................. (7)

Thursday, July 17, 2014

[Poetry] Selamat Pagi!

Selamat pagi!

Aku menyapa mentari yang hangat di kulit, cerah di mata, nostalgia di hati.
Aku melambaikan tangan pada embun yang basah di daun, segar di udara, nostalgia di hati.
Aku tersenyum ramah pada tukang becak yang lewat, ibu-ibu yang berangkat ke pasar, keluarga yang masih menanti di rumah, nostalgia di hati.

Ah, selamat pagi, kataku.
Sebentar lagi aku pulang melepas rindu.
Sebentar lagi aku datang ke pelukan engkau.
Sebentar lagi aku akan menemukanmu, dan takkan kulepas selalu.

-17072014-
Catatan pagi hari seseorang yang sakit rindu.

Monday, June 2, 2014

[Poetry] Tampar Wajahku

Kata orang menyerah itu mudah
Kau berhenti, menapak tanah terdiam runtuh
Kau terduduk, mencari benar dari sesal tak bertuan
Kau menangis, memanggil beku datang bagi hati

Tapi saat ingin ku diam, menyerah, menyambut kalah,
Tak kunjung rasa itu tiba
Tak pernah waktu meminta maaf
Aku harus terus maju, meski peluh jadi air mata
Meski sakit terasa di pahitnya ludah

Satu demi satu tulangku rontok!
Dimakan kejinya Tuhan semesta alam
Dicerabut masa dan kata maaf

Adakah kiranya yang mau menampar wajahku?
Agar setidaknya pori-pori membuka, biarkan ampunan mengalir
Adakah kiranya yang mau menampar wajahku?
Agar sesal ini tampak olehmu, Kawanku!

-12052014-

Friday, February 21, 2014

[Poetry] Capek, Padahal Tak Pasti

Sang udara berhilir-mudik
Ia lewat di depan wajah berkali-kali
Hawanya dingin
Merasuk lewat celah pori

"Diamlah," aku hardik
"Aku hanya ingin menunggu,
tahu?"
"Jangan ganggu!"

Dia menolak--dasar bebal
Hawanya membekukan
Meresap sampai tulang
Sudah, aku tidak tahan
Menunggu membuat payah
Aku menyerah
-03022014-

A/N: THAT'S LIKE THE LAMEST TITLE I'VE EVER MADE LOOOOL
By the way, ini dibuat waktu saya janjian sama temen di kampus tapi mereka nggak datang-datang, dan waktu itu memang lagi berangin, saya sampai kedinginan nungguin mereka -___-
Oooh dan waktu itu lagi galau-galaunya karena IP nggak keluar-keluar padahal jurusan lain udah pada keluar 8D

Saturday, August 3, 2013

[Poetry] In Darkness


taken from http://www.flickr.com/photos/elvirasdada/5563219556/

Hey, are you still there?
In the darkness; waiting for your demon to go away?
Sometimes choking in the damp air,
Sometimes groaning and calling God,
Sometimes even scratch the blood out.

Hey, can you hear me?
From outside; I whisper your name in my heart.
Wondering when you're going to show up,
Wondering what story you'll tell me today,
Wondering how you'll fight away the monsters.

Hey, will you promise me?
During storms; you are strong as ever.
But the winds are growing fierce--
--you are falling down, down, down, again.
Still, can you promise me?
Tell me you won't give up.
Tell me you'll stay to see another daylight.
Tell me I can go inside, into the shadows, into your darkness.
And let's wait together.


-03082013-
I can't promise I wouldn't get scared or something, but I can promise that you're still my friend.

Sunday, May 26, 2013

[Poetry] Prosa Perpisahan


Masih teringat awal kehidupan SMA kita.
Rasa berdebar ketika pertama mencoba seragam putih-abu-abu.
Juga was-was ketika menginjakkan kaki di halaman sekolah, disambut oleh para Kadis bertampang galak.
Bahkan hingga detik ini, jika kita mengenang pengalaman selama tiga hari Masa Orientasi, tawa akan selalu menghiasi.
“Betapa culunnya aku dulu!” atauMengapa dulu bisa menangis ketakutan begitu?
Ya, memori yang menyenangkan. Membekas benar di kalbu.
MOS usai, hari-hari sebagai murid Smariduta yang sesungguhnya pun dimulai.
Menemui guru-guru baru. Ada yang baik, ada yang diam-diam ditakuti. Memiliki kesan masing-masing.
Berkenalan dengan teman-teman baru. Ada yang akrab, ada yang saling memusuhi. Bahkan ada yang menjalin kisah kasih.
Lewat setahun dan cerita kita memasuki babak baru.
Dipersatukan dalam wadah berjudul 'IPA 1', kita mematri kenangan baru tiap harinya. Bersama. Sekelas.
Kita sempat terpecah sekali, dan cukuplah sekali, karena kita tak ingin melepaskan lagi.

Sekarang ini, bila diingat-ingat lagi,
Tiga tahun belakangan penuh dengan keajaiban tiap harinya.
Dan hal itu terwujud hanya dan hanya karena orangtua kita mendaftarkan kita di Smariduta,
Dan mendukung semua kegiatan kita, menaungi saat kita payah.
Karena itu, terima kasih. Bapak-ibu, Papa-Mama, Ayah-Bunda, Abi-Umi.
Terima kasih selalu.
I love you.

Lalu, kita semua setuju. Setahun duduk di kelas XII adalah yang paling berarti, paling segar di hati.
Suasana di kelas serta karakteristik tiap guru saat mengajar, seakan kemarin masih terjadi.
Kalimat "In the name of God loh ya," saat jam Bahasa Inggris membuat kita menarik napas.
"Ojo dipiye lek durung diopo," mengingatkan kita atas pentingnya masalah kecil, seperti halnya soal Kimia.
Sindiran tajam saat jam Matematika yang mengatasnamakan "anak IPA cap Smariduta", menyadarkan betapa besar tanggung jawab yang kita emban.
Gebrakan di meja, penggugah semangat manakala kantuk menyerang di jam Fisika.
Seruan "Merdeka!" serta lagu-lagu nasional sebagai pembuka pelajaran PKn.
Sampai pantun-pantun penyegar di akhir jam pelajaran Bahasa Jerman.
Manalah cukup disebutkan semuarasa syukur dan terima kasih ini.
Setahun bersama engkau, wahai para pendidik yang mulia, telah memberi dorongan besar.
Terima kasih. Terima kasih.

Namun bukan berarti perjuangan berhenti di sini!
Kita masih jauh dari tujuan, Kawan, masih terlalu pagi untuk bersantai.
Walau nantinya kita tidak lagi bersama-sama, tidak lagi sekelas, setidaknya sekarang—
Kita panjatkan doa bersama, untuk kita.
Semoga perjalanan kita diberi kelancaran dan kemudahan oleh Tuhan.
Semoga pelajaran yang kita peroleh selama tiga tahun di Smariduta bisa bermanfaat kelak.
Semoga diberkati semua guru kita yang telah berjasa ini.
Semoga dilindungi orangtua serta keluarga kita.
Amin.

A/N: Ini adalah puisi-slash-prosa yang saya buat demi penampilan kelas saya di acara wisuda kemarin. Dibuat dalam waktu semalam, dan dibeta oleh teman sesama penulis tercinta, Dinda Fujisawa.