Showing posts with label Umineko No Naku Koro Ni. Show all posts
Showing posts with label Umineko No Naku Koro Ni. Show all posts

Tuesday, December 8, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 27)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko No Naku Koro Ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: General
Disclaimer: Umineko is property of Ryukishi07. I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: royalty AU
 
syarat /sya·rat/ n janji (sbg tuntutan atau permintaan yg harus dipenuhi)

“Aku mau menikahi orang itu, tapi dengan satu syarat.”

Amakusa mengangkat alis, setengah tersinggung karena tuan putri itu bicara seolah-olah orang itu tidak berada di ruangan yang sama, setengahnya lagi penasaran karena dia tahu tuan putri itu punya kesukaan yang unik. Dia pernah terpaksa berdansa dengan sepuluh laki-laki di sebuah jamuan hanya karena dia nekat menggoda Ange dan mulut besarnya mengatakan akan mengabulkan satu permintaan sang tuan putri.

Yah, kalau untuk berdansa satu lagu saja harus melewati syarat seperti itu, Amakusa sama sekali tidak bisa membayangkan syarat macam apa yang akan dia lontarkan menghadapi rencana pernikahan politis ini.

“Sebutkan saja, Nona. Kau sudah tahu kalau aku akan melakukan apa saja yang Nona minta~” kelakar lelaki bersurai perak tersebut. Dia menyeringai puas melihat dengusan Ange. Sebagai orang yang pernah menjadi teman masa kecilnya, Amakusa tahu benar bahwa sang tuan putri sedang menahan hasrat untuk memutar bola matanya. Atau melemparkan jambangan bunga terdekat.

Ange mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi saat yakin semua mata tertuju pada dirinya. “Kau harus mengalahkanku di permainan catur.”

Huh. Itu permintaan yang sederhana. Sederhana, tapi tidak mudah. Ange adalah pemain catur yang baik, dilatih dengan ketat oleh ibunda dan kakaknya, dan sudah pernah mengalahkan Yang Mulia Raja Ushiromiya Kinzo dalam permainan favorit beliau tersebut. Amakusa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri momen kemenangan sang gadis, waktu itu masih dua belas tahun, setelah hampir dua jam pertarungan sengit di atas papan catur.

Kini, enam tahun kemudian, gadis jenius itu jelas berusaha menggunakan peluangnya di catur untuk menggagalkan rencana pernikahan yang akan menjembatani dua kerajaan besar ini. Meskipun demikian, Amakusa tidak bisa melihat apakah penolakan terselubung Ange sifatnya personal ataukah atas nama kerajaannya. Ekspresi gadis itu datar, tidak berubah, tidak menunjukkan sedikitpun celah menuju pikirannya.

Dasar pemain catur ulung, keluh Amakusa dalam hati.

Tapi bukan Amakusa namanya kalau menyerah setelah digertak oleh anak perempuan usia delapan belas tahun. Dan satu lirikan mata ke arah Yang Mulia Raja Okonogi Tetsuro memberitahunya bahwa dia tidak boleh kalah.

Monday, August 17, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 26)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko No Naku Koro Ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: General
Disclaimer: Umineko is property of Ryukishi07. I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: canon? future-fic?

hilang /hi·lang/ v tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan

Amakusa memandang jauh ke horizon, di mana air laut tampak hampir menyatu dengan langit di mana hanya satu garis khayalan tipis untuk membedakannya.

Apa ini pemandangan yang dilihat oleh gadis bersurai merah itu, tiga tahun yang lalu tepat di titik ini? Apakah saat itu ia pun berusaha mengiris langit dari laut, membuka portal menuju dimensi yang berbeda? Ataukah saat itu ia benar-benar telah melewati batas ruang dan waktu dan akal sehat—menemukan sihir serta Dataran Emas di mana sosok anggota keluarganya telah menunggu selama tiga belas tahun?

Entahlah. Amakusa tidak akan pernah tahu. Hanya Ange yang tahu jawabannya. Dan Ange sudah tidak ada di sini. Kalaupun ia masih hidup, masih asyik berpesta minum teh di balik pintu yang memisahkan dunia manusia dengan dunia para penyihir, Amakusa tidak bisa menemuinya. Tidak bisa melihatnya. Dia bukan penyihir. Dia tidak punya sihir. Dia adalah lelaki penuh logika, lelaki yang beraksi atas dasar untung-rugi, bukan ilusi anak kecil bernama sihir.

Atas dasar itulah, tiga tahun yang lalu dia menarik pelatuk itu. Melepaskan sebutir peluru yang menembus kening Ange yang meneteskan air mata dalam diam setelah ia sendiri menembak mati Kasumi Sumadera. Serbuan emosi yang sesaat kemudian menerpa Amakusa tidak ada artinya. Darah yang mengalir dari bibir yang digigit terlalu keras saat melempar jenazah gadis itu ke dasar jurang juga tidak ada artinya. Uang dalam jumlah besar yang menunggu di rekeningnya dan kebebasan untuk bertualang ke mana pun adalah yang penting.

Meskipun demikian, Amakusa sama sekali tidak mengerti kenapa dia berdiri di titik ini, di bibir jurang ini, jika semua itu tidak penting? Ah, barangkali sihir yang diberikan gadis itu padanya masih belum hilang.

Monday, July 13, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 25)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU...?

mimpi /mim·pi/ n 1 sesuatu yg terlihat atau dialami dl tidur; 2 ki angan-angan

Sepasang iris kebiruan perlahan menampakkan dirinya dari balik kelopak mata yang terkatup rapat. Di dalamnya tergurat nostalgia, luka lama yang tertutup oleh waktu, pagi ini terkuak kembali dari dalam lelap. Sebulir air mata mengalir menuruni pipi, berhenti di sarung bantal berwarna putih.

“Ojou?”

Sepasang iris itu mengerling pada sosok laki-laki yang berbaring di sebelah pemiliknya. Amakusa tampak seperti sudah bangun sejak lama, tidak ada bekas-bekas tidur di wajahnya. Lelaki itu mengamati wajah Ange lamat-lamat. Dia menggunakan ibu jari untuk menghapus jejak air mata di pipi gadis itu. “Mimpi?”

“Mm...” gumam Ange. Gadis itu bergerak mendekat pada Amakusa untuk mencari harum tubuh yang begitu ia kenal. Amakusa memutar tubuh menghadap ke atas agar Ange bisa meletakkan kepalanya di atas dadanya. Setelah mengirup napas dalam-dalam, Ange berbicara dengan suara serak, “Mimpi tentang keluargaku...”

“Oh ya? Tumben.”

“Hmm... Sudah berapa lama ya? Dua atau tiga tahun mungkin? Sejak terakhir kali aku melihat mereka dalam mimpi.” Amakusa membiarkan gadis itu berguling untuk membenamkan kepala lagi ke bantalnya sendiri, menyembunyikan ekspresinya yang tampak bahagia. “Ternyata aku masih ingat suara Kak Battler... Mama... Papa...”

Amakusa menyeringai tipis. Dulu, dua atau tiga tahun yang lalu, perempuan itu memimpikan keluarganya hampir setiap malam. Terbangun bersimbah air mata hampir setiap pagi. Berduka setiap hari. Bagi anak perempuan berumur belasan tahun, tentunya sulit melepaskan kepergian keluarganya begitu saja, tapi dengan berjalannya waktu Ange bisa berdiri tegak lagi. Melihat perempuan itu tumbuh dewasa dengan susah payah adalah salah satu faktor yang membuat Amakusa tunduk. Sekarang, Ange terbangun dari nostalgia bersama keluarganya dengan senyum di bibir dan lelaki itu positif jatuh cinta.

A/N: commemorating the 25th drabble! Hurrah! I'm halfway there :""")

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 24)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: high school AU
 
kunci /kun·ci/ n alat untuk mengancing pintu, peti, dsb, terdiri atas anak kunci dan induk kunci 

Ange terjengkang ketika tangan-tangan putih itu mendorongnya sekuat tenaga ke dalam kegelapan. Para iblis wanita itu kini menertawainya, melemparkan ejekan-ejekan kecil, lalu menutup pintu dengan suara klik yang final.

“Kuno sekali, mengunciku di kloset alat kebersihan,” keluh Ange setelah berdiri dan menepis debu dari rok sekolahnya. Gadis itu tidak tampak peduli dengan suasana gelap yang memerangkapnya. Dia hanya mengernyit sebentar karena bau apak yang cukup menusuk hidung, lalu melipat kedua lengan di depan dada. Matanya memperhatikan segaris cahaya yang masuk dari celah di pintu kloset, menghela napas pendek. “Setidaknya aku tidak akan kehabisan oksigen di sini.”

“Yaa, kukira ada siapa, ternyata kamu ya, Nona Ushiromiya~”

Ange tergagap ketika suara laki-laki itu tiba-tiba terdengar dari bagian kloset yang lebih dalam. Sesaat kemudian, Ange bisa melihat rambut perak panjang dan segaris wajah tampan berkat cahaya dari celah pintu. “Amakusa-sensei,” dengusnya. “Sedang apa sensei di dalam kloset?”

“Menyimpan alat kebersihan, tentu saja. Tidak mungkin aku sedang digencet dan dikunci di sini kan?” guru olahraga yang masih muda dan gemar menggoda Ange itu meledek Ange dengan nada santai, sementara tangannya mencoba memutar gagang pintu.

Ange merasakan pipinya mulai terbakar. “Siapa yang sedang digencet?”

“Lalu kenapa kau di sini, hmm?” Lelaki itu tidak menyebutkan kalau dia melihat seluruh kejadian saat kedatangan Ange. “Ushiromiya. Punya jepit, atau peniti?”

Masih dengan kernyitan dalam, Ange berkutat sebentar dengan dasi seragamnya dan menarik sebuah peniti, yang ia serahkan ke Amakusa. “Aku sengaja tidak melawan. Buang-buang energi saja,” kilahnya, sementara iris kehijauan miliknya memperhatikan jemari cekatan lelaki itu memutar-mutar peniti ke dalam lubang kunci sampai terdengar bunyi klek.

“Hmm, terserah katamu saja~” Amakusa membuka pintu dan segera menarik tangan Ange keluar dari ruangan yang pengap itu. Tapi genggaman tangannya tidak segera ia lepas, melainkan terus menarik Ange ke koridor. Ange meronta sedikit. “Ayolah, Ushiromiya. Aku belum makan siang. Temani aku.”

Terdiam sesaat, Ange berhenti meronta. “Dasar guru mesum.”

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 23)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU

curang /cu·rang/ a tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil

Kartu-kartu berserakan di atas meja, beberapa terjatuh hingga ke lantai, setelah lelaki malang itu mendobrak meja saking murkanya ia. Lelaki itu menuding gadis bersurai merah yang duduk di hadapannya dengan mata nyalang. “KAU! KAU CURANG!”

Perempuan muda itu hanya mengangkat satu alis, ekspresi wajahnya tidak berubah dari kerutan bosan yang sejak awal permainan ia pasang. “Curang bagaimana?” tanyanya tenang, sembari mengambil cangkir tehnya.

Ditanggapi tanpa antusiasme begitu semakin membuat lelaki itu mendidih. “CEWEK SIALAN—”

Belum lagi kalimatnya selesai, belum lagi lelaki itu sempat beranjak dari tempatnya untuk meraih gadis itu, tubuhnya tiba-tiba terbanting ke lantai dengan satu erangan pendek. Dengan satu lengan terlipat di punggung, seseorang menimpa tubuhnya sehingga ia tidak bisa bergerak.

“Tsk, tsk... Kalah lalu menyerang pemenangnya? Padahal lawanmu cuma anak perempuan. Menyedihkan sekali.” Orang yang menahan gerakan laki-laki itu terkekeh, namun cengkeraman tangannya semakin kuat sampai si korban mengerang kesakitan sekali lagi. “Sekarang, bagaimana kalau kau keluar dari sini dengan tenang, hmm? Jangan lupa tinggalkan semua uangmu.”

Setelah laki-laki malang itu pergi, masih dengan raut tak terima di wajahnya, Ange kembali meminum tehnya dengan tenang. “Amakusa. Bereskan kartunya,” perintahnya pada laki-laki bersurai perak yang sedang menghitung-hitung uang di dalam dompet yang ditinggalkan si laki-laki malang.

“Aah, Ojou. Poker face-mu itu memang tidak ada duanya,” Amakusa tertawa sembari memungut kartu-kartu yang berceceran di lantai. “Bahkan saat kau menarik kartunya dengan curang, ekspresi wajahmu tidak berubah sama sekali.”

Tahu bahwa di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua, Ange membiarkan bibirnya membentuk senyum miring. “Selama dia tidak bisa membuktikan itu, aku tetap menang,” ujarnya.

A/N: Looks like there are scenes that are good only on visual and not on written forms.

Sunday, July 12, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 22)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU

biskuit /bis·ku·it/ n kue kering yg dibuat dr adonan tepung (terigu dsb) dan telur dng atau tanpa diberi gula (biasanya dibuat di pabrik dan dijual dl bentuk kalengan)

“Mau kutunjukkan sebuah sihir?”

Amakusa mendongak. Gadis bersurai merah yang duduk bersandar di tempat tidur itu tersenyum lemah. Hari demi hari, tubuh gadis itu semakin kehilangan daya. Belakangan ini dia hanya bisa berada di atas tempat tidur, makan disuapi dan tubuh dimandikan. Aksesori pencegah aliran arus sihir untuk menjaganya tetap stabil sudah tidak efektif, menyebabkan arus sihir bebas keluar masuk dari tubuh gadis itu, membuatnya semakin lemah. Amakusa tahu, Ange tidak akan bertahan lama. Karena itu dia berusaha menghiburnya.

“Memangnya sihir apa yang sudah kamu kuasai, hmm?”

Senyum Ange melebar, dan Amakusa merasa tertohok. Tuhan, dia semakin cantik jika tersenyum. Tapi kenapa baru sekarang, saat hidupnya tidak lama lagi, barulah dia banyak tersenyum?

“Perhatikan tanganku baik-baik,” ujarnya, perlahan-lahan menangkupkan kedua tangan. “Kemari, cobalah ingat. Seperti apa bentukmu? Semanis apa rasa dan harummu? Cobalah ingat.” Sinar keemasan muncul dari antara kedua belah telapak tangan Ange. Ketika gadis itu membuka tangannya, sekeping biskuit tergeletak manis di sana. Amakusa bersiul panjang.

“Sihir untuk membuat biskuit? Kerja bagus, Ojou.”

Gadis itu menggeleng. “Aku hanya memanggil kembali biskuit yang pernah kita makan. Bukan membuatnya dari kekosongan.”

“Tetap saja. Sekarang kamu adalah penyihir sejati, Ojou. Selamat.”

A/N: kind of inspired by Yamazaki Kore's Mahoutsukai no Yome (The Magician's Bride). So Amakusa here is a magician, while Ange is the disciple.

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 21)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza, Beatrice
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU

hitam /hi·tam/ n warna dasar yg serupa dng warna arang

Asap mengepul dari cangkir teh yang dibiarkan di atas meja kecil di tengah gazebo taman. Seorang perempuan bersurai merah yang duduk menyilangkan tangan di salah satu kursinya seakan lupa kalau ia punya secangkir teh yang menunggu untuk diminum. Perempuan muda itu masih sibuk menekuni selembar kertas menguning yang terhampar di depannya. Raut wajahnya kaku, dengan segurat gundah di bola matanya.

“Yaa, Ange!” suara wanita tiba-tiba melengking di udara. Tanpa perlu perempuan bersurai merah itu menggerakkan kepala, dia tahu bahwa di kursi sebelahnya ada segerombolan kupu-kupu emas, yang kemudian menyatu menjadi sosok perempuan pirang bergaun merah. “Kenapa sedih begitu?” tanya pendatang baru ini, melambaikan tongkat cerutu di tangan.

“Nona Besar Beatrice,” sapa Ange singkat. Lebih dari itu, dia tidak menunjukkan pergerakan apapun. Hal ini membuat Beatrice merengut heran.

“Angeee, sudah kubilang panggil saja Beatrice, kan! Kenapa, sih? Sepertinya hari ini kamu lebih judes daripada biasanya?”

Menghela napas panjang, Ange menyodorkan kertas menguning di hadapannya kepada Beatrice. “Dia orang Hitam,” bisiknya, marah bercampur sedih dan kecewa.

Tanpa membaca isi kertas itu, Beatrice langsung paham siapa yang dimaksud oleh anak didiknya tersebut. Kemarahan mulai merambati hatinya. “Dan selama ini laki-laki itu tahu kalau kita orang Emas?”

“Ya.”

Hitam dan Emas. Dua kubu yang berselisih sejak ribuan tahun lalu, yang tidak jarang menuai korban jiwa dari kedua belah pihak. Penyihir-penyihir dari kedua kubu ini saling membenci satu sama lain, tapi tampaknya Ange tidak cukup beruntung karena ia jatuh cinta kepada seorang penyihir laki-laki bersurai perak yang begitu misterius. Ternyata dia orang Hitam. Seharusnya aku sadar dari awal, batin Beatrice penuh sesal. Dengan begitu Ange tidak perlu tersakiti begini...

Tanpa mengatakan apapun, Ange berdiri. Dia bersumpah tidak akan memaafkan seluruh kubu Hitam tanpa terkecuali... terutama laki-laki itu.

Saturday, June 27, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 20)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU of Hunger Games

air n cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yg terdapat dan diperlukan dl kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yg secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen

Hijau bertemu kelabu, masing-masing saling mengiris dengan intensitas seorang martir. Botol air yang tidak bersalah itu menjadi saksi bisu pertarungan kedua peserta terakhir yang berhasil bertahan hidup. Hampir bisa dipastikan bahwa yang mendapatkan botol air tersebut adalah pemenang dari Hunger Games ke-74. Pertama, mereka pasti akan mempertaruhkan nyawa untuk bisa mengklaim air terakhir itu. Kedua, jika misalnya mereka berdua masih hidup setelah perebutan selesai, siapapun yang kalah dan kehilangan hak atas air itu akan mati dehidrasi. Ya, jelas inilah titik klimaks dari Hunger Games tahun ini. Gadis kaya dari Distrik 1 melawan pemuda pejuang distrik yang sama. (Tahun ini memang aneh, tidak ada gadis pejuang yang mengajukan diri menggantikan nona besar ini. Mungkin mereka memang ingin gadis bersurai merah itu mati.)

Ange mengeratkan genggamannya pada kedua pancang berwarna hitam mengilat. Dia sudah sampai sejauh ini hanya bermodalkan ketujuh pancang tersebut, dan sama sekali tidak punya niat untuk mundur sekarang. Kalau memang harus mati, maka dia akan mati setelah mengalahkan musuhnya.

Sementara itu Juuza memasuki kuda-kuda bersama senapan berlaras panjang yang baru saja ia ambil dari korban terakhirnya. Anak dari Distrik 12 itu tidak ada apa-apanya melawan seorang pembunuh yang sudah dilatih untuk memenangkan Hunger Games. Anak perempuan dari distriknya ini juga tidak. Jujur saja, Juuza cukup terkejut mendapati gadis kaya itu masih bertahan hidup, tapi melihat kilau berbahaya di matanya, Juuza segera paham.

Seakan ada aba-aba, keduanya bergerak bersamaan, keinginan membunuh menguar dan menyelimuti. Botol air terakhir itu hanya premis. Yang sesungguhnya adalah pertarungan antar keinginan untuk kembali ke dunia di luar arena Hunger Games. 

A/N:
I can't remember what those kids from District 1 and 2 are called, the ones trained specially to volunteer in Hunger Games, so I settled with pejuang. Lame, I know.

Sunday, June 14, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 19)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU of Lightning Returns: Final Fantasy XIII (because I'm obsessed)

hancur/han·cur/ v 1 pecah menjadi kecil-kecil; remuk; 2 tidak tampak lagi wujudnya; luluh; larut:

"Jam 6. Cepat kembali," suara gadis itu terdengar tajam bahkan dari balik gemerisik statis dari earpiece. Amakusa mengedikkan bahu sementara tubuhnya tersedot oleh kekuatan mistis yang membawanya kembali ke Ark, melewati Historia Crux. Historia Crux adalah bagian terburuk dari proses menuju Ark―selalu ada rasa yang asing dalam dadanya tiap kali menyaksikan roda gigi itu bergerak melewati dirinya. Tapi setelah beberapa kali melewati proses ini, Amakusa belajar untuk mengabaikan rasa itu.

Rasa yang lebih tepat disebut kekosongan itu.

Ketika Amakusa membuka kedua matanya di dalam Ark, seorang gadis bersurai merah menyala tampak menyilangkan tangan di depan dada. Komputer raksasa di balik punggungnya menunjukkan berbagai video dari seluruh Nova Chrysalia.

"Hari ini kau tidak dapat banyak Eradia," ujar gadis itu, nada suaranya setengah menuduh.
Amakusa menyeringai. Nona besar satu itu memang tidak berubah sama sekali, bahkan setelah menjadi mainan Tuhan. "Tenang saja, Ojou. Masih ada besok," jawab lelaki itu, sementara ia mengalihkan pandangan ke Yggdrasil.

"Kau bicara seolah-olah waktu kita tak terbatas. Dunia ini akan hancur dalam waktu dua hari, kalau Yggdrasil tidak berbunga sempurna. Kau tahu itu."

"Dan kau bicara seolah-olah dunia tidak akan hancur kalau Yggdrasil berbunga sempurna." Amakusa tertawa kecil. Tawa yang kosong tanpa arti. "Toh 13 hari adalah batas terlama yang dimiliki dunia ini sebelum hancur, ya kan?"

Ange tidak menjawab.

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 18)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: basically PWP, only there's no smut here. just making out.

diam /di·am / v 1 tidak bersuara (berbicara); 2 tidak bergerak (tetap di tempat); 3 tidak berbuat (berusaha) apa-apa

"Mm..."

Ange membiarkan jemarinya tenggelam dalam helai rambut perak, menarik lelaki itu lebih dekat, lebih intens ke dalam ciumannya. Ia mendesah ketika lidah pasangannya mencoba menerobos ke dalam mulutnya. Ketika lidah mereka bertemu dan saling bermain-main, Ange merasa jantungnya seperti akan meledak dan ia pun merintih pelan. Ciuman laki-laki itu begitu dahsyat, apalagi bagi anak perempuan belasan tahun yang menghabiskan masa remajanya ditindas di sekolah khusus anak perempuan.

Saat Amakusa menarik diri perlahan-lahan, meninggalkan beberapa kecupan ringan di bibirnya, Ange kembali mendesah. Kelopak matanya setengah turun ketika ia berusaha mencari kata-kata.
"...kenapa kau menciumku?"

Amakusa menyeringai. "Itu cara efektif untuk membuatmu diam."

A/N:
do warn me if I should bump the rating. i was being a little perverted today.

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 17)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: M
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: somewhat future AU, established relationship, smut!!

malam /ma·lam / n waktu setelah matahari terbenam hingga matahari terbit

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 16)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: unclear setting, established relationship

hujan/hu·jan/ n titik-titik air yg berjatuhan dr udara krn proses pendinginan

Ange berdiri di sisi jendela, mengamati bulir hujan yang menyerbu bumi. Harum khas hujan mulai menghampiri indera penciumannya. Harum yang segar dan menenangkan itu mengingatkannya pada suatu masa di umur belia, di mana bodyguard-nya saat itu justru mengajaknya main hujan-hujanan.

"Ojou~" Panjang umur. Bodyguard berambut perak itu datang, dengan berani memeluk pinggang Ange dari belakang. "Jangan merengut begitu. Yah, aku juga kecewa kencan kita batal karena hujan kok," kelakarnya.

"Memangnya siapa yang merengut," tukas Ange, meskipun ekspresinya lebih lembut daripada kata-kata yang ia utarakan. "Toh aku tidak benci hujan."

"Hmm...," gumam Amakusa. Dia mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang gadisnya dan mencium puncak kepalanya. "Tidak benci ya..."

Thursday, June 4, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 15)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: high-school AU, established relationship

kenapa/ke·na·pa/ pron cak kata tanya untuk menanyakan sebab atau alasan

“Menurutmu kenapa aku mau jadi pacarmu?”

Itu pertanyaan aneh, dan bodoh, dan Ange tidak ingin menjawabnya. Toh selama ini Amakusa-lah yang mengejarnya mati-matian (kalau bisa dibilang begitu sih). Laki-laki itu juga yang duluan menembaknya. Kalau bukan karena ada rasa ketertarikan khusus, lalu apa?

(Tidak, Ange tidak akan mengakui rasa waswas yang menggerayangi punggungnya bersama satu kata itu: kenapa?)

“Ange-chaaan~? Halooo?”

Gadis berkuncir dua itu menepis tangan yang dilambaikan Amakusa di depan wajahnya. “Apa harus kujawab?” balasnya kesal.

“Tentu saja. Aku tanya serius, tahu.”

Menghela napas pendek, Ange membuang muka. “Aku tidak tahu, oke? Sekarang diamlah.”

(Kenapa? Memangnya kenapa? Mana aku tahu! Aku yang tidak cantik ini, aku yang tidak pandai ini, aku yang setengah mati menyebalkan ini—)

Rentetan kalimat dalam benak gadis itu terhenti seketika saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah di bibirnya.

“Karena aku jatuh cinta padamu, Bodoh.”

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 14)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU-ish?

matahari/ma·ta·ha·ri/ n benda angkasa, titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yg mendatangkan terang dan panas pd bumi pd siang hari

“Di Dataran Emas tidak ada matahari.”

Kalimat itu terucap lebih sebagai gumamam seorang yang tidak sadar seratus persen, terombang-ambing dalam limbo dan panas tubuh yang tak menentu—sama sekali tidak dimaksudkan untuk ditangkap oleh gendang telinga orang lain apalagi sampai mengalami proses pengolahan di lobus temporal.

Tapi tentu saja, hal itu tidak berlaku untuk seorang Juuza Amakusa.

“Kenapa begitu?” tanya laki-laki bersurai perak itu, datar tapi sungguh-sungguh ingin tahu. Bola matanya mengawasi ekspresi wajah Ange yang berkerut tidak nyaman.

Untuk sesaat Ange hanya membisu. Mata hijaunya bergerak naik-turun membedah sosok lelaki yang duduk tegak di kursi meja kerja hotel yang telah diseret ke sisi tempat tidur. Ketika akhirnya menjawab, suaranya parau dan jauh. Seakan-akan butuh usaha lebih untuk tetap sadar dan menyampaikan jawaban itu. “Karena... Beatrice adalah penguasa Rokkenjima di malam hari...”

“Dan kau suka Dataran Tanpa Matahari itu?” tanya Amakusa sekali lagi. Kali ini kalimatnya sedikit hambar, terlalu kering dan putus asa.

“...ya.” Ange menutup mata, sedikit demi sedikit kesadarannya tertarik ke dalam limbo itu lagi. Dia merasa terbakar. Ia ingin menjerit, tapi sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak. Bibirnya bergerak pelan sebelum kesadarannya benar-benar hilang. “...karena... di sana ada... keluargaku...”

Menyadari napas gadis itu mulai tersengal kesakitan, Amakusa segera bangkit dari kursi dan meraba kening Ange. Panas, membara. Demamnya naik lagi, entah untuk yang keberapa kalinya dalam empat puluh delapan jam setelah tembakan di perut dan infeksi yang menyerang luka tembaknya. Tak tahu lagi harus bagaimana, Amakusa mendecak kesal.

“Aku benci Dataran Tanpa Matahari-mu itu.”

A/N: so for anyone who doesn't get it: Ange got shot and the wound was infected, but she and Amakusa are still on the run so he can't risk them going to hospital. Instead, he treated her in the hotel room. But the infection caused some bad fever and it made her delirious.

Thursday, April 30, 2015

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 13)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: kinda canon-verse but I'm not sure. can be considered the direct sequel of the previous chapter

dingin/di·ngin/ a 1 bersuhu rendah apabila dibandingkan dng suhu tubuh manusia; tidak panas; sejuk.

Dua puluh empat jam setelah resmi kehilangan hak atas emas warisan keluarganya, Ange mendapati dirinya termenung menatap kobaran api yang perlahan melahap lembar-lembar buku harian Maria. Api yang tidak seberapa itu terasa seperti membakar tiap sel tubuhnya pula. Di matanya, Ange dapat menggambarkan tubuh-tubuh bersalut api: Sakutaro, Tujuh Saudari Penyucian, dan para Siesta.

Bagi gadis itu, menghancurkan buku harian magis tersebut adalah langkah terbaik. Bagaimanapun, sudah tidak ada yang perlu mereka lindungi. Tidak ada emas, tidak ada kepala keluarga Ushiromiya, tidak ada Dataran Emas. Ange merasa, lebih baik mereka tidur selamanya daripada harus hidup tersesat dan kedinginan...

...seperti dirinya.

A/N: i wanted to keep the indonesian names but..... looks like it's not a good idea....

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 12)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: kinda canon-verse but I'm not sure
 
pencuri/pen·cu·ri/ n orang yg mencuri; maling;

Murka. Gadis bersurai merah itu bisa merasakan darahnya menggelegak, napasnya sedikit tersengal karena menahan marah, dan jemarinya mengepal sampai kuku meninggalkan bekas di telapak tangan. Iris hijaunya nyalang.

"Berani-beraninya kau," Ange menggeram bak singa. "Berani-beraninya kau!"

Okonogi terbahak, bahu berguncang-guncang. "Jangan bilang kau sudah mulai percaya padaku, Ange-san," susah payah laki-laki tambun itu membentuk satu kalimat koheren saking keras tertawanya. Bahkan saat berbicara, seringainya masih terlihat jelas, mempertontonkan giginya yang menguning karena rokok. "Anak buahku ini memang bagus sekali, kan? Kerjanya cepat, rapi. Dia memang kepercayaanku yang nomor satu," lanjutnya, mengangguk pada Amakusa yang sejak awal langsung mengambil posisi di samping Okonogi. Lelaki berambut perak itu tampak tenang, tak tergoyah oleh tatapan menghujam dari Ange. Seringai di bibirnya tidak selebar Okonogi, tapi tetap saja seringai itu ada. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, selain ekspresi terhibur yang seakan tak pernah pergi dari sana.

Ange menolak untuk membiarkan air matanya jatuh. Serendah apapun dia terjatuh, dia tidak akan mengakui hal itu--terutama tidak pada dua laki-laki yang telah mempermainkan kepercayaannya untuk merebut emas kekayaan Ushiromiya!

A/N: it saddens me how I can't seem to be able to write something fluffy for these two

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 11)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction

Warning:  high-school AU

mungkin/mung·kin/ adv tidak atau belum tentu; barangkali; boleh jadi; dapat terjadi; tidak mustahil

“Apa kau suka padaku?”

Sudah dua bulan pertanyaan itu tersimpan di otak Amakusa. Atau mungkin jauh lebih lama lagi. Pertama kali mereka bertemu adalah saat awal tahun ajaran baru, di mana dia mendapati tatapan setajam pisau dan sedingin salju dari gadis berambut merah itu, jadi sudah hampir setahun. Sebulan, dua bulan, tiap kali berpapasan dengan gadis tak bernama itu (dan kelas mereka bersebelahan, demi Tuhan), tatapan yang sama akan menembus tubuh Amakusa tanpa ampun. Tiga bulan, empat bulan, kadar tajam tatapan itu mulai berubah menjadi tanda tanya, setelah Amakusa akhirnya mengetahui nama gadis itu dari temannya dan mulai menyapa si rambut merah walau tak pernah dibalas. Lima, enam bulan, dan Ange Ushiromiya mulai terlihat lega setiap kali mendapat sapaan ramah Amakusa. Menginjak tujuh-delapan-sembilan bulan, gadis itu terkadang melemparkan senyum kecil ke arahnya. Perkembangan ini mau tidak mau membuat Amakusa terkejut. (Bukan berarti dia menolak. Ange Ushiromiya adalah gadis tercantik yang pernah ditemuinya.) Dan akhirnya, bulan ini Amakusa berhasil mengutarakan pertanyaan itu.

Bibir gadis berambut merah itu naik sedikit. “Mungkin,” jawabnya singkat.

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 10)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: canon-verse, end of EP4

hampa /ham·pa/ a 1 tidak berisi; kosong; 2 ki tidak bergairah; sepi; 3 ki sia-sia; tidak ada hasilnya 

Selama ini Ange menganggap lubang di hatinya sudah cukup besar, cukup dalam, cukup tidak terobati. Kecuali kalau secara ajaib, Battler dan Rudolf dan Kyrie pulang ke rumah dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun. Ya, sejauh ini Ange percaya kalau itulah satu-satunya hal yang akan membuatnya merasa utuh lagi.

Sampai laki-laki itu datang. Sampai laki-laki itu menyeruak masuk, tanpa permisi menggali ceruk baru dalam relung hatinya. Tidak masalah sebenarnya, kalau ceruk itu ditempati sebagaimana mestinya—

—masalahnya adalah, laki-laki itu langsung pergi setelah ceruk itu selesai dibuat.

Ange mengira kalau dia tidak bisa merasa lebih hampa lagi, tapi ternyata dunia masih berbaik hati membuktikan sebaliknya. Ange menyadari hal itu sementara matanya menatap hampa selongsong peluru yang diarahkan tepat ke dahinya, seringai lebar di baliknya.

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 9)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: canon-verse, throughout EP4 or in the end of EP6

Dia /di·a/ pron persona tunggal yg dibicarakan, di luar pembicara dan kawan bicara;

“Bagaimana perkembangan misimu?”

“Tidak buruk. Sepertinya dia mulai menemukan mata rantai yang dibutuhkan untuk memecahkan teka-teki emas itu.”

“Dia tidak curiga?”

“Tidak, tidak—tapi dia memang selalu waspada, nona muda itu. Tidak pernah menyebutkan hal-hal penting kalau di sekitarku. Dia juga sangat menjaga berkas-berkas yang berhasil kami kumpulkan. Aku harus mengais sedikit demi sedikit untuk mengetahui petunjuk apa yang dia temukan.”

“Menurutmu semuanya akan baik-baik saja?”

“Jangan khawatir. Dia toh tidak akan bergerak tanpa kudampingi. Ke manapun petunjuk itu memandunya, dia akan membawaku ke sana. Aku tinggal mengikuti, dan saat waktunya tiba, aku tinggal membuangnya.”

Suara tawa. “Bagus. Pastikan kau bawa emasnya padaku.”

A/N: is it weird that I want to cry and kill these guys so much even though I'm the one who wrote this

[Fanfic] Tetesan Hujan (ch 8)

Title: Tetesan Hujan
Author: Vianna Orchidia / Annasthacy Chashyme
Fandom: Umineko no Naku Koro ni
Character: Ushiromiya Ange, Amakusa Juuza
Rating: K+
Genre: Romance, Friendship
Disclaimer: I do not own the series and the characters, and I do not gain any profit from this fanfiction
Warning: AU where they live together after escaping Kasumi
 
Rahasia / ra·ha·si·a / (1 n sesuatu yg sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain )

Ange tidak bisa menahan lirikan tajam yang ia arahkan pada Amakusa sementara laki-laki itu sibuk menekan tombol-tombol ponselnya dengan kecepatan tinggi. Sebenci apapun ia mengakuinya, Ange sedang penasaran. Penasaran mendekati murka. Terakhir kali laki-laki itu melakukan hal serupa, Amakusa pernah masuk rumah sakit selama dua minggu karena luka tembak.

“Ayolah, berhenti memelototiku seperti itu, Ojou,” cetus Amakusa pada akhirnya, tidak tahan untuk tidak berkomentar. Ia menyeringai saat menutup ponselnya. “Kau terlihat seperti ingin membunuhku,” ujarnya lagi setengah tertawa.

Dengan pipi merona dan bibir menipis, gadis berambut merah itu meledak. “Kalau aku tidak membunuhmu sekarang, kau akan terbunuh gara-gara bisnis rahasia apapun yang kau lakukan di ponselmu!” sergahnya. Tak pelak, ingatan tentang hari-hari sepi selama Amakusa rawat inap menghampiri otaknya. Dia bukannya tidak khawatir! Sebebal apapun, Amakusa adalah orang terdekat bagi gadis belia itu. Toh mereka sudah hidup bersama selama hampir setahun. Memang benar, mereka hidup bersama lebih karena alasan keselamatan, tapi tetap saja.

Sementara Ange jelas-jelas berasap dari telinga, Amakusa justru terdiam. Dengan tangan menggaruk kepala yang tidak gatal, ia bergumam, “tunggu, tunggu. Maksudmu yang aku masuk rumah sakit itu?”

“Memangnya ada yang lain?” tukas Ange.

Sekali lagi Amakusa diam seribu bahasa, jemari mulai bermain-main dengan ponsel yang menjadi sumber amarah Ange. Ketika akhirnya ia bicara lagi, suaranya pelan tapi masih bernada mengejek. “Hei, Ojou. Kalau kamu marah begitu, aku akan mengira kamu peduli, lho.”

Amakusa memang hanya menyebut kata 'peduli', tapi tatapan matanya yang lurus dan penuh makna mengisyaratkan hal-hal lain. Seperti hal-hal antara laki-laki dan perempuan, tentang ketergantungan, tentang ketertarikan, dan...

Ange menyipitkan mata.

“Oh, tutup mulutmu.”