For [#FF2in1] sesi 10 November 2012 (1)
Theme song: Hymne Guru
Senyumnya menawan. Begitu lepas, riang, sama sekali tidak tampak terbebani.
Di tengah-tengah siswa sekolah dasar yang tubuhnya ceking-ceking itu, Pak Guru jadi satu-satunya yang beda. Kulitnya paling putih. Posturnya tegap walau tidak seperti atlet apalagi binaragawan. Bagian wajahnya juga kelihatan jauh lebih berisi daripada anak-anak malang itu, yang hanya bisa makan sehari sekali.
Di tengah-tengah muridnya, cinta kasih mengalir deras. Baik dari beliau, maupun sebaliknya. Arus dua arah. Pernah, kulihat seorang anak yang belum becus mengeja menggambar sesuatu untuk Pak Guru. Itu gambar paling kasar yang kutahu, digoreskan menggunakan krayon pinjaman dengan sedemikian rupa, hingga membentuk sebentuk wajah. Matanya ramah dan giginya berderet--wajah Pak Guru.
Gambar itu sekarang dibingkai dan disayang-sayang oleh Pak Guru.
Pernah juga, Pak Guru kedatangan tamu di sekolah. Orangnya tinggi, rambutnya rapi, bajunya berkilau. Anak-anak berebutan menyalaminya, sekedar untuk mencium harum minyak wangi yang segar, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan bau keringat yang menempel di seragam mereka. Orang itu lalu bicara lama dengan Pak Guru di ruang guru. Konon dia alumni. Mantan murid. Katanya sekarang dia jadi manajer di perusahaan besar. Kaya. Sukses.
Tapi sama sekali tidak melupakan jasa pendidiknya dulu.
"Berkat Pak Guru," begitu yang mereka dengar. Dan anak-anak berseragam putih-merah itu, bersorak-sorai. Mengelu-elukan Pak Guru, seolah ialah pak presiden yang tempo hari lewat di jalan besar di kota sebelah sana. Semuanya setuju, bahkan tanpa dirunding, bahwa mereka bisa mengecap pendidikan seadanya ini karena Pak Guru.
Setelah pria itu pergi dengan janji memperbaiki gedung sekolah dan memberi tunjangan serta beasiswa pada Pak Guru juga murid-muridnya, sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pun berjalan pulang ke rumah. Di mana aku sudah menunggu beliau, dengan dua cangkir teh hangat kesukaan kami. Ketika Pak Guru tersenyum lebar, sumringah karena mendapat jaminan pendidikan yang lebih layak di desa ini, aku memeluknya.
"Kami nggak akan lupa, Pak. Makasih banyak."
Saturday, November 10, 2012
Mirai - Kalafina
MIRAI
-Kalafina-
Mahou Shoujo Madoka Magica ~Hajimari no Monogatari~
夢を叶えて
一人で探してた星の
同じ光を
君が見つめているだけで
いつもの夜が闇に染まる頃
走り出せるはず
一人じゃない心たちのように
[yume wo kanaete
hitori de sagashiteta hoshi no
onaji hikari wo
kimi ga mitsumete iru dake de
itsumo no yoru ga yami ni somaru koro
hashiridaseru hazu
hitori janai kokoro-tachi no you ni]
明け行く空は
誰かが信じた明日を
裏切り続けて
それでも小さな祈りを
諦めないよ
届かないと泣き濡れた
君をただ抱きしめたい
側に居るよ、 ずっと
[akeyuku sora wa
dareka ga shinjita ashita wo
uragiri tsuzukete
soredemo chiisana inori wo
akiramenai yo
todokanai to nakinureta
kimi wo tada
dakishimetai
soba ni iru yo
zutto]
そんな寂しい心じゃ
大事なものも失くしてしまうよ
少し優しい未来を信じていいんだと
かなしみを暖めてあげたい
[sonna sabishi ni kokoro ja
daijina mono mo
nakushite shimau yo
sukoshi yasashii
mirai wa shinjitai
minna
kanashimi wo atatamete
agetai]
[arti sartia isorta mia
isadia sadore asortia idia
madia sorte idora
idaso adi aro]
街は静かに
君が描いた日々の中
数えきれない
夢の灯りが消える頃
いつもの夜が輝き始める
君を守りたい
一人じゃない心で行く
未来
[machi wa shizukani
kimi ga kaita hibi no naka
kazoe kirenai
yume no akari ga kieru koro
itsumo no yoru ga kagayaki hajimeru
kimi wo mamoritai
hitori janai
kokoro de yuku
mirai]
一人で探してた星の
同じ光を
君が見つめているだけで
いつもの夜が闇に染まる頃
走り出せるはず
一人じゃない心たちのように
[yume wo kanaete
hitori de sagashiteta hoshi no
onaji hikari wo
kimi ga mitsumete iru dake de
itsumo no yoru ga yami ni somaru koro
hashiridaseru hazu
hitori janai kokoro-tachi no you ni]
明け行く空は
誰かが信じた明日を
裏切り続けて
それでも小さな祈りを
諦めないよ
届かないと泣き濡れた
君をただ抱きしめたい
側に居るよ、 ずっと
[akeyuku sora wa
dareka ga shinjita ashita wo
uragiri tsuzukete
soredemo chiisana inori wo
akiramenai yo
todokanai to nakinureta
kimi wo tada
dakishimetai
soba ni iru yo
zutto]
そんな寂しい心じゃ
大事なものも失くしてしまうよ
少し優しい未来を信じていいんだと
かなしみを暖めてあげたい
[sonna sabishi ni kokoro ja
daijina mono mo
nakushite shimau yo
sukoshi yasashii
mirai wa shinjitai
minna
kanashimi wo atatamete
agetai]
[arti sartia isorta mia
isadia sadore asortia idia
madia sorte idora
idaso adi aro]
街は静かに
君が描いた日々の中
数えきれない
夢の灯りが消える頃
いつもの夜が輝き始める
君を守りたい
一人じゃない心で行く
未来
[machi wa shizukani
kimi ga kaita hibi no naka
kazoe kirenai
yume no akari ga kieru koro
itsumo no yoru ga kagayaki hajimeru
kimi wo mamoritai
hitori janai
kokoro de yuku
mirai]
This song is very beautiful. The music feels very energetic but the lyric is kinda hopeful and sweet. <3
lyric from canta-per-me.net
Thursday, November 8, 2012
Contek-Contekan Hore!
[Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba blog oleh Indonesia Berkibar, Gerakan Indonesia Berkibar Blog Competition 2012 dengan tema "Guruku Pahlawanku".]
Lie of lives to the netherworld,
Lie in yourself and your words,
Lie because you are the liar,
Vianna desu.
Kalau ditanyai pendapat soal kualitas pendidikan Indonesia saat ini, yang jadi perhatian saya cukup yang ada di lingkungan saya sendiri. Satu masalah yang begitu berat, belum ada solusinya. Satu masalah yang menjadi akar dari berbagai masalah lain.
Bobroknya kejujuran.
Lie of lives to the netherworld,
Lie in yourself and your words,
Lie because you are the liar,
Vianna desu.
Kalau ditanyai pendapat soal kualitas pendidikan Indonesia saat ini, yang jadi perhatian saya cukup yang ada di lingkungan saya sendiri. Satu masalah yang begitu berat, belum ada solusinya. Satu masalah yang menjadi akar dari berbagai masalah lain.
Bobroknya kejujuran.
Wednesday, November 7, 2012
Awal dan Kemudian
Ada yang bilang, sudah naluri dasar manusia untuk tetap di dalam zona nyamannya. Berlindung dari badai bernama perubahan. Menjauhi duri-duri kehidupan yang kadang, bisa menusuk dengan begitu kejam, tak kenal ampun. Menusuk sampai kita kehabisan darah dan kehabisan napas.
Saya jadi berpikir. Apakah saya pun seperti itu? Sejauh mana yang dikatakan sebagai 'zona nyaman' bagi saya?
Saya jadi berpikir. Apakah saya pun seperti itu? Sejauh mana yang dikatakan sebagai 'zona nyaman' bagi saya?
Thursday, November 1, 2012
[Orific] Denganmu, Bermimpi
For #FF2in1 sesi 1 November 2012 (1)
Theme song: Perahu Kertas - Maudy Ayunanda
Di dunia ini, hanya piano yang bisa menggugah hatiku. Sejak kecil aku menyentuh tuts-tuts hitam-putih, sejak kecil aku mendengar dentingnya, dan sejak kecil aku berkawan dengan piano. Satu grand piano warna putih kepunyaan keluargaku, sudah menjadi sahabat sehari-hari. Kalau dulu ada ayah dan ibuku yang memainkannya, sekarang piano itu milikku seorang, seorang.
Dulu aku menganggap, yang bisa mengalun dalam jiwaku terbatas pada piano itu dan laguku sendiri . Ternyata aku salah. Salah. Ternyata, lagunya pun mampu bergaung indah di relung hati ini.
Aku tidak bisa berhenti. Menonton jemarinya menari di atas tuts, menyenandungkan lagu favoritku. Aku tidak kuasa mengalihkan pandangan dari entakan kepalanya yang mengikuti melodi dari permainan pianonya. Aku melihatnya, seperti melihat seseorang yang sudah lama kucari, yang sudah lama hilang dalam lautan manusia.
Seperti menemukan pelabuhan tempat pelayaranku akhirnya berhenti.
Ketika lagu yang dimainkannya habis, aku bertepuk tangan pelan. "Kamu hebat," pujiku singkat sembari melangkah ke sisinya, lalu turut duduk di kursi piano.
Dia hanya tertawa ringan. "Terima kasih," jawabnya, sementara nada-nada indah kembali mengalun. "Mau main juga?"
Tanpa bicara aku meletakkan ujung jemariku di atas tuts piano, siap mengikuti musiknya. "Bagaimana kalau kita buat lagu baru?"
"Hmm, boleh juga. Dari tadi aku ingin memainkan melodi seperti ini," dia menekan beberapa tuts secara simultan, dan hatiku membuncah saat mendengarnya. Rasanya seakan-akan aku langsung menemukan nada yang cocok untuk melengkapinya. "Bagaimana menurutmu?"
"Lalu begini," kini giliranku memainkan kumpulan nada, harmoni menyatu dengan miliknya. "Manis, kan?"
"Hmm...," ia bergumam sementara aku terus berkreasi dengan laguku. "Terdengar seperti kisah kita. Manis, penuh kejutan, mengikuti tempo takdir."
Mau tak mau aku tertawa. "Tidak biasanya kamu puitis begitu," ujarku. Lagu yang kumainkan memasuki bridge, di mana aku memainkan nada-nada yang kompleks--seperti kisah kami, yang sempat menemui tanjakan terjal serta turunan curam. Namun setelah nada yang cukup melelahkan itu, bagian akhirnya berupa not-not simpel yang begitu ringan, begitu manis.
"Dan, kisah kita berakhir dengan ucapan 'aku mencintaimu'," cetusnya.
Aku tertawa lagi, dan menambahkan, "juga 'terima kasih'."
Setelah jemariku berhenti bergerak, namun tetap bertahan di atas tuts piano, kami saling berpandangan. Bisa kurasakan senyumku melebar. "Aku bersyukur bisa menemukanmu," bisikku.
Kusandarkan kepala di bahunya, membiarkan ia mengusap kepalaku.
"Aku tahu kita pasti bisa bertemu."
Theme song: Perahu Kertas - Maudy Ayunanda
Di dunia ini, hanya piano yang bisa menggugah hatiku. Sejak kecil aku menyentuh tuts-tuts hitam-putih, sejak kecil aku mendengar dentingnya, dan sejak kecil aku berkawan dengan piano. Satu grand piano warna putih kepunyaan keluargaku, sudah menjadi sahabat sehari-hari. Kalau dulu ada ayah dan ibuku yang memainkannya, sekarang piano itu milikku seorang, seorang.
Dulu aku menganggap, yang bisa mengalun dalam jiwaku terbatas pada piano itu dan laguku sendiri . Ternyata aku salah. Salah. Ternyata, lagunya pun mampu bergaung indah di relung hati ini.
Aku tidak bisa berhenti. Menonton jemarinya menari di atas tuts, menyenandungkan lagu favoritku. Aku tidak kuasa mengalihkan pandangan dari entakan kepalanya yang mengikuti melodi dari permainan pianonya. Aku melihatnya, seperti melihat seseorang yang sudah lama kucari, yang sudah lama hilang dalam lautan manusia.
Seperti menemukan pelabuhan tempat pelayaranku akhirnya berhenti.
Ketika lagu yang dimainkannya habis, aku bertepuk tangan pelan. "Kamu hebat," pujiku singkat sembari melangkah ke sisinya, lalu turut duduk di kursi piano.
Dia hanya tertawa ringan. "Terima kasih," jawabnya, sementara nada-nada indah kembali mengalun. "Mau main juga?"
Tanpa bicara aku meletakkan ujung jemariku di atas tuts piano, siap mengikuti musiknya. "Bagaimana kalau kita buat lagu baru?"
"Hmm, boleh juga. Dari tadi aku ingin memainkan melodi seperti ini," dia menekan beberapa tuts secara simultan, dan hatiku membuncah saat mendengarnya. Rasanya seakan-akan aku langsung menemukan nada yang cocok untuk melengkapinya. "Bagaimana menurutmu?"
"Lalu begini," kini giliranku memainkan kumpulan nada, harmoni menyatu dengan miliknya. "Manis, kan?"
"Hmm...," ia bergumam sementara aku terus berkreasi dengan laguku. "Terdengar seperti kisah kita. Manis, penuh kejutan, mengikuti tempo takdir."
Mau tak mau aku tertawa. "Tidak biasanya kamu puitis begitu," ujarku. Lagu yang kumainkan memasuki bridge, di mana aku memainkan nada-nada yang kompleks--seperti kisah kami, yang sempat menemui tanjakan terjal serta turunan curam. Namun setelah nada yang cukup melelahkan itu, bagian akhirnya berupa not-not simpel yang begitu ringan, begitu manis.
"Dan, kisah kita berakhir dengan ucapan 'aku mencintaimu'," cetusnya.
Aku tertawa lagi, dan menambahkan, "juga 'terima kasih'."
Setelah jemariku berhenti bergerak, namun tetap bertahan di atas tuts piano, kami saling berpandangan. Bisa kurasakan senyumku melebar. "Aku bersyukur bisa menemukanmu," bisikku.
Kusandarkan kepala di bahunya, membiarkan ia mengusap kepalaku.
"Aku tahu kita pasti bisa bertemu."
Subscribe to:
Posts (Atom)